Senin, 04 Juni 2012

ASPEK KEPERILAKUAN PADA PERENCANAAN LABA DAN PENGANGGARAN


ASPEK KEPERILAKUAN PADA PERENCANAAN LABA DAN PENGANGGARAN
Penyusunan anggaran adalah suatu tugas yang bersifat teknis. Kata-kata seperti keuangan, angka, dan estimasi muncul ketika seseorang berpikir mengenai “anggaran”. Tetapi dibalik seluruh citra teknis yang berkaitan dengan anggaran, terdapat manusia. Manusialah yang menyusun anggaran dan manusia juga yang harus hidup dengan anggaran tersebut.
Anggaran memiliki dampak langsung terhadap perilaku manusia. Anggaran menjelaskan kepada orang-orang mengenai apa yang diharapkan dari mereka dan kapan hal tersebut harus sudah dilakukan. Anggaran menetapkan batasan terhadap pada apa yang dapat dibeli dan berapa banyak yang dapat dibelanjakan. Anggaran membatasi tindakan manajemen. Anggaran merupakan alasan mengapa kinerja manajer di pantau secara kontinu dan standar terhadap mana hasil kineja dibandingkan. Orang-orang tekanan dari anggaran yang ketat, kegelisahan dari laporan kinerja yang buruk, dan kegembiraan atau rasa lega karena “memenuhi” anggaran.
A.    Berbagai Fungsi dari Perencanaan Laba dan Anggaran
Ada beberapa fungsi anggaran, yaitu :
1.      Anggaran merupakan hasil akhir dari proses perencanaan perusahaan. Sebagai hasil negoisasi antar anggota organisasi yang dominan, anggaran memcerminkan konsensus organisasional mengenai tujuan operasi untuk masa depan.
2.      Anggaran merupakan cetak biru perusahaan untuk bertindak, yang mencerminkan prioritas manajemen dalam alokasi sumber daya organisasi.
3.      Anggaran bertindak sebagai suatu alat komunikasi internal yang menghubungkan beragam departemen atau divisi organisasi antara yang satu dengan yang lainnya.
4.      Dengan menetapkan tujuan dalam criteria kinerja yang dapat diukur, anggaran berfungsi sebagai standar terhadap mana hasil operasi actual dapat dibandingkan.
5.      Anggaran berfungsi sebagai alat pengendalian yang memungkinkan manajemen untuk menemukan bidang-bidang yang menjadi kekuatan atau kelemahan perusahaan.
6.      Anggaran mencoba untuk memengaruhi dan memotivasi baik manajer maupun karyawan untuk terus bertindak dengan cara yang konsisten dengan operasi yang efektif dan efisien serta selaras dengan tujuan organisasi.
B.     Pandangan Perilaku terhadap Proses Penyusunan Anggaran
Ada 3 tahap utama dalam proses penyusunan anggaran, yaitu :
1.      Penetapan Tujuan
Tujuan realistis yang ditetapkan melalui partisipasi yang berarti akan mempengaruhi tingkat aspirasi manajer dan karyawan secara menguntungkan.
2.      Implementasi
Pada tahap implementasi, rencana formal tersebut digunakan untuk mongomunikasikan tujuan dan strategi organisasi, serta memotivasi orang secara positif dalam organisasi.
3.      Pengendalian dan Evaluasi Kerja
Setelah anggaran di implementasikan, maka anggaran tersebut berfungsi sebagai elemen kkunci dalam system pengendalian.
C.     Konsekuensi Disfungsional dari Proses Penyusunan Anggaran
Berbagai fungsi anggaran seperti penetapan suatu tujuan, pengendalian, dan mekanisme evaluasi kerja dapat memicu berbagai konsekuensi disfungsional, seperti :
1)      Rasa Tidak Percaya
Alasan dari rasa tidak percaya ini didasarkan pada keyakinan penyedia bahwa :
a)      Anggaran cenderung untuk terlalu menyederhanakan atau mendistorsi situasi “riil”.
b)      Anggaran mencerminkan variable-variabel kualitatif.
c)      Anggaran hanya mengonfirmasikan apa yang telah diketahui oleh penyelia.
d)     Anggaran sering kali terjadi untuk memanipulasi penyelia.
e)      Laporan anggaran menekankan pada hasil, bukan alasan.
f)       Anggaran cenderung untuk menekan pada kegagalan.
2)      Resistensi
Salah satu alasannya adalah bahwa anggaran menandai dan dan membawa perubahan, sehingga merupakam suatu ancaman terhadap status quo.
3)      Konflik Internal
Gejala-gejala umum dari konflik ini adalah ketidakmampuan untuk mencapai kerja sama antar pribadi dan antar kelompok selama proses penyusunan anggaran.
4)      Efek Samping Lain yang Tidak Diinginkan
Efek samping lain yang tidak diinginkan yang dapat berkembang adalah penekanan yang berlebihan pada kinerja departemental dan kurang menekankan pada kinerja organisasi secara keseluruhan.
D.    Relevansi Konsep Ilmu Keperilakuan dalam Lingkungan Perencanaan
a)      Dampak dari Lingkungan Perencanaan
Ukuran dan struktur, gaya kepemimpinan, jenis system pengendalian, dan stabilitas lingkungan dari suatu organisasi merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja dimana perencanaan terjadi.
b)      Ukuran dan Struktur Organisasi
Ukuran organisasi dipandang seagai jumlah karyawan, nilai dolar dari pabrik fisik, volume penjualan, jumlah kantor cabang, atau ukuran kuantitatif lainnya yang membedakan organisasi.
c)      Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan ini terutama efisien dalam kasus perbedaan bahasa atau budaya. Tetapi, gaya kepemimpinan ini tidak mendorong partisiasi dan dapat menimbulkan tekanan anggaran yang berlebihan, kegelisahan, dan rusaknya motivasi.
d)     Stabilitas Lingkungan Sosial
Lingkungan yang stabil mengenakan resiko yang terbatas dan memungkinkan proses penetapan tujuan menjadi demokratis dan partisipatif.
E.     Konsep-konsep Kperilakuan yang Relevan dalam Proses Penyusunan Anggaran
a.       Tahap Penetapan Tujuan
Adalah penting untuk diingat bahwa orang-orang didalam organisasi bertanggung jawab untuk menentukan sasaran dan menetapkan tujuan. Orang-orang dalam organisasi juga bertanggung jawab atas pencapaian sasaran dan tujuan tersebut.
b.      Keselarasan Tujuan
Keselarasan tujuan atau kompatibilitas akan terjadi ketika individu memandang bahwa kebutuhan pribadinya dapat dipenuhi dengan mencapai tujuan organisasi.
c.       Partisipasi
Partisipasi adalah suatu “proses pengambilan keputusan bersama oleh dua bagian atau lebih pihak dimana keputusan tersebut akan memiliki dampak masa depan terhadap mereka yang membuatnya”.
d.      Manfaat Partisipasi
Salah satu manfaat dari partisipasi yang berhasil adalah bahwa partisipasi menjadi terlibat secara emosi dan bukan hanya secara tugas dalam pekerjaan mereka.
e.       Batasan dan Permasalahan Partisipasi
Jika suatu perusahaan tidak mampu untuk secara efektif menggunakan partisipasi yang sesungguhnya, maka adalah lebih bijaksana untuk mengikuti praktik penyusunan anggaran otoriter dan dengan jujur mengakuinya.
f.       Tahap Implementasi
Untuk membat anggaran bekerja, semua karyawan harus belajar untuk melihatnya sebagai wahana positif untuk tindakan organisasi dan sebagai perbaikan dan bukan sebagai beban atau senjata manajemen.
g.      Pengomunikasian Anggaran
Kontroler atau direktur perencanaan bertanggung jawab untuk mengimplementasikan anggaran.
h.      Kerja Sama dan Koordinasi
Implementasi anggaran yang berhasil membutuhkan kerja sama dari orang-orang dengan beraneka ragam keterampilan dan bakat. Setiap dimensi rencan tersebut harus dijelaskan dengan hati-hati.
i.        Tahap Pengendalian dan Evaluasi Kerja
Dalam tahap pengendalian dan evaluasi kinerja, kinerja actual dibandingkan dengan standar yang dianggarkan guna menentukan bidang-bidang permasalahan dalam organisasi tersebut dan menyarankan tindakan yang sesuai untuk memperbaiki kinerja yang dibawah standar.
j.        Laporan-laporan Kinerja
Untuk mempertahankan kendali atas biaya dan untuk menjaga agar karyawan termotivasi kearah pencaaian sasaran, laporan kinerja sebaiknya disusun dan didistribusikan paling tidak secara bulanan.
Kurangnya umpan balik kinerja mencegah orang mengetahui tingkat pencapaian nyata dan dapat merugikan tingkat aspirasi mereka berikutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar